"Tak segampang itu..." tangisku pecah ketika aku mendengarnya meminta maaf. Dia meninggalkanku dengan janji akan kembali dan menikah denganku. 9 tahun, aku setia menanti. Meski aku telah mendengar kabar dia sudah menikah dengan perempuan lain, namun aku tidak mau percaya karena janjinya padaku. Memang, aku menelan bulat-bulat janjinya itu. Padahal sahabatku, Karina, sdh memperingatkanku sebelumnya bahwa janji laki-laki tak dapat dipegang sepenuhnya.
"Aku tahu aku mengingkari janjiku, tapi aku mencintainya lebih dari aku mencintaimu. Aku tak dapat menahan perasaanku padanya. Salahku, aku tidak tega mengatakannya padamu, aku takut kau tidak akan menerimanya" jelasnya. "Cukup!! Kau bukan Leo yang kukenal lagi. Kau bukan Leoku... Pergilah dengan anak-istrimu itu..." kuusir dia dan keluarga kecilnya.
*******
Hampir setiap malam aku menangisi keadaanku. Tidak ada yang tahu, jika aku masih tenggelam dalam sedih karena kejadian itu. Aku melakukan segala kegiatan seperti biasa, bekerja, berkumpul dengan keluarga atau teman. Semuanya seolah-olah aku sudah melupakannya, nyatanya hatiku masih sakit. Sakitnya karena aku buta dan tuli oleh cintaku. Kadang aku berharap waktu dapat berputar ulang dan menghapus kenangan pahit ini. Tapi apalah dayaku, aku bukan TUHAN. Aku manusia biasa, hanya bisa merutuki nasib yang datang menimpaku. 9tahun bukan waktu yang singkat. Aku menghabiskan waktuku dengan sia-sia. Aku berdoa pada Tuhan, agar sudi mengangkat luka hatiku. Entah mengapa sampai sekarang aku masih belum bisa berhenti merutuki luka hatiku.
*******
Ping!
Ada notif di facebook ku. Kucoba lihat, ada apa kali ini. Terpampang sebuah foto, bayi mungil, lucu dan imut. 'Anak siapa ini?' pikirku. Akun 'Gaby' ini bukan temanku, tapi aku merasa familiar dengan wajahnya. Kubaca pesan dibawah foto itu.
"Maaf sudah menyakiti hatimu. Bayi ini kami beri nama seperti namamu, Jelita, agar kami selalu mengingat kesalahan kami padamu."
Kutelusuri foto albumnya, sampai aku menemukan fotonya berdua bersama Leo tersenyum bahagia. Barulah aku menyadari bahwa 'Gaby' adalah nama istri Leo. Seketika itu juga aku menangis, kenapa dia tega menyinggungku lagi dengan foto anaknya? Apa kurang puas dia mengambil Leo? Lalu, apa lagi yang dia inginkan dariku? Memberi nama yang sama pada anak perempuannya? Untuk apa? Apa semua rasa sakitku akan hilang jika dia menamai anaknya dengan namaku? Dan lagi, ini masalah antara aku dan Leo. Kenapa dia ikut campur? Kenapa dia melibatkan anaknya? Dia ingin membebani anaknya dengan kesalahannya? Oh Tuhan, orang tua macam apa ini?
Aku mencoba bersikap dewasa, aku meninggalkan pesan di kolom komentarnya.
"Selamat atas kelahiran anak kedua kalian. Semoga menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya. Tapi tolong jangan libatkan anak kalian dalam permasalahan kita. Dia belum dan tidak akan mengerti hal itu."
Sedikit, entahlah, aku merasa bebanku sedikit ringan. Mungkin karena foto itu, aku tahu dia menyesali kejadian itu. Aku tak dapat menyalahkannya. Dia tidak mengetahui bahwa Leo dulu adalah kekasihku. Dia hanya menikmati cinta yang diberikan Leo padanya. Ini jelas bukan salahnya, ini salah Leo.
Cukuplah, tak perlu membahas kesalahannya lagi. Aku muak, aku tak ingin mengungkit kesalahannya lagi yang akan merobek lukaku lagi. Aku ingin melupakan apa yang telah terjadi. Aku hanya ingin hidupku kembali. Duniaku bukan hanya sekedar Leo, hidupku juga tentang keluargaku, pekerjaanku dan impianku yang lain. Walau kadang aku bertanya, mungkinkah lukaku ini sembuh? Tapi aku harus tetap berjalan. Dan aku pun harus melangkah.
_____________
Ini tentang Jelita, seorang gadis yang dijanjikan akan dinikahi kekasihnya jika sudah sukses di negeri orang. Tapi kenyataan berkata lain. Dia harus merasakan sakit luar biasa karena kekasihnya itu. Apakah dia mampu melewatinya? Apakah dia akan menemukan jalan keluar dari luka hatinya?
Berikan komentarmu dibawah ya... Terima kasih.😁😁😁😁
Tidak ada komentar:
Posting Komentar