Aku mencoba menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang menguras pikiran. Pekerjaan, contohnya. Aku yang seorang graphic designer, harus terus mencari ide design-design menarik untuk ditawarkan pada klienku. Ya, begini pun, bukan hanya mengalihkan pikiran tapi juga mencari biaya kehidupan meski aku tak kekurangan. Setiap manusia pasti butuh biaya, baik itu kebutuhan maupun sekedar pamer. Tapi aku diajarkan untuk tidak menghamburkan uang sia-sia. Hanya membeli hal yang kubutuhkan.
Tapi, karena ajaran itu juga ayahku menjadi khawatir. Sebab aku sudah menabung terlalu banyak. Uang yang kudapat dari pekerjaanku tak pernah aku nikmati. Aku tidak mengenal kata 'libur' dan 'nongkrong'. Ayah khawatir, aku melewati masa hidup yang katanya masa-masa muda, masa dimana kita harus belajar hal baru untuk menambah pengalaman. Hitung-hitung cerita hidup untuk anak cucu dikemudian hari, kata ayah. Ayah memang benar, terkadang pun aku merasa bosan dengan hidupku. Mungkin kalau ditanya tentang pengalaman menarik seumur hidupku, aku takkan mampu menarik perhatian orang. Karena hidupku sepenuhnya hanya pekerjaan dan diriku sendiri. Bahkan, tanpa kusadari, aku tidak bertemu Karina hampir setahun ini. Ini salahku, aku mengasingkan diri dari pertemuan yang menurut tidak penting. Termasuk ajakannya untuk bertemu sekedar melepas rindu. Bahkan, dia pernah sekali datang namun tidak aku temui karena aku terlanjur tertidur begitu pulang bekerja. Ya, kalau dipikir, tingkahku berlebihan. Untuk saat ini, aku hanya bisa menghela nafas menyesali tingkahku. Yah sudahlah...
*******
"KARINA!!" aku berteriak saat membuka pintu kantornya, kupikir dia sedang didalam. "Ada apa kamu berteriak seolah-olah ada kebakaran" tanyanya dari belakangku. Ganti aku yang terkejut. "Astaga, niatnya mengejutkanmu malah aku yang terkejut. Ah, gak seru!" omelku.
"Oh, ah! Aku terkejut!" dia berpura-pura terkejut.
Aku bengong, lalu kami tertawa bersama.
Bukan Karina namanya, kalau dia tidak bisa membuatku tertawa keras ini. Sahabatku ini, sahabat yang paling mengerti aku. Dia tidak akan pernah sakit hati jika aku bertingkah. Entahlah, dia jauh dewasa jika dibandingkan aku. Dia akan berusaha memahami sebab-sebab aku mengulah. Kalau dia tidak dapat menemukannya sendiri, maka dia akan mengajakku bicara tentang masalahnya. Aku bersyukur punya teman seperti dia. Andai semua orang seperti dia, damailah dunia ini. Sayangnya, itu bukan kenyataannya.
"Ada apa kamu kemari? Masih ingat denganku rupanya ya..." sindirnya.
Kupeluk dia, "Maaf, aku menyakitimu."
Ya, aku memang menyakitinya. Kupeluk dia terlalu erat, sampai dia hampir tidak bernafas. Hahaha...
"Kau mau membunuhku? Apa kau setega itu? Ah, lama tak bertemu, kau sekejam itu padaku?" dramanya. Karina memang cocok menjadi pemain drama opera. Itu memang sudah jadi bakatnya. Dengan alasan itulah, ia kini menjadi seorang Executive Producer di sebuah Rumah Produksi. Dia sangat telaten dalam memilih cerita menarik untuk disajikan ditelevisi nasional.
*******
Kami berakhir disini. Kamar tidurnya yang hangat.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya tiba-tiba.
"Dari tadi pagi kita bertemu, baru sekarang kau tanya kabarku?"
"Daripada kau? Sama sekali tak bertanya..." balasnya.
"Hmm," kuhela nafasku, "masih berjuang, Na!"
"Tapi kulihat, kau sedikit lebih ceria dari yang pernah kulihat sebelumnya. Itu mesti disyukuri. Paling tidak kau masih disini bersamaku sekarang."
"Loh, kok suasananya jadi melow gitu ya?"
Hahahahahah... tawa kami bergema dikamarnya. Aku memang merindukan saat-saat bersama sahabatku ini.
Kreek...
Pintu terbuka perlahan tapi pasti. Kami menunggu, siapa yang membukakan pintu. Hah, ternyata kak Lukman.
"Ada Jelita ternyata. Pantesan~ " katanya sembari akan menutup pintu lagi seakan ingin memberiku ruang lebih luas untuk melepas canda tawaku.
"Emang kenapa kalau ada Jelita, kak?" tanya Karina pada kakak kesayangannya itu.
"Kakak rindu dengar gemuruh dirumah ini" jawabnya tersenyum sedikit sambil melirikku. Ya, bukan hanya Karina. Kakaknya juga pandai menggodaku. Dia seperti kakakku sendiri.
"Jangan sedih lagi, waktu akan mengubah segalanya. Tergantung jalan yang kau pilih~" nasehatnya.
"Wuah, kak Lukman alih profesi menjadi motivator..." ejekku. Lalu dia pergi meninggalkan kami berdua. Keluarga Karina menerimaku seolah-olah aku memang anggota keluarga ini. Ini rumah keduaku. Keluarga keduaku.
*******
"Selamat pagi, bu" seseorang membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Benar, aku menginap dirumah Karina semalam.
"Selamat pagi juga~~ "jawabku sembari meregangkan tubuhku.
"Sarapan sudah siap, Ta. Ayo, cuci wajahmu, gosok gigi, lalu sarapan. Aku tunggu dimeja makan." panjang sekali perintahnya.
"Siap bos" kubri sikap hormat kemiliteran padanya meski aku masih mengantuk.
"Selamat pagi, Jelita!" sapa om Ferdi. "Ayo sini sarapan!"ajak tante Rina. Ah, keluarga ini...
"Ia, om. Tante. Mari makan..."
"Senang kamu disini lagi, sudah lama tidak bertemu. Seperti ada yang hilang dirumah ini. Ya kan, Ma?"tanya om Ferdi pada tante Rina yang hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan.
"Kami merindukanmu" kata tante Rina mengelus rambutku. Dan, kami mengobrol panjang lebar sampai akhirnya om Ferdi mengejutkan kami. "Loh, sudah jam setengah delapan. Papa harus berangkat kerja dulu. Om pergi dulu ya Jelita. Sering-sering la kamu main kesini lagi..."pinta om Ferdi saat akan beranjak meninggalkam kami di meja makan.
"Baik, om..."
*******
Hari ini, aku sengaja mengambil cuti agar aku bisa bersama Karina seharian. Karina mengajakku ke lokasi shooting drama tv terbarunya. Sekedar melihat-lihat katanya. Setelah itu, kami pergi ke tempat yang katanya akan jadi lokasi shooting selanjutnya. Memang indah, sungguh! Baru ini aku benar-benar merasa mataku dimanjakan oleh pemandangan yang sejuk. Tidak menyakitkan mata seperti di kota. Lokasinya di tepi pantai, ada batu-batu karang besar dengan ombak yang memercikkan air segar ke tubuhku. Ah, kenapa tidak dari dulu aku merasakan segarnya air ditepi pantai.
Kami mengambil gambar, seolah-olah kami sedang bertamasya disini. Padahal hanya karena tingkahku yang heboh karena baru melihat pantai. Ya, ini lucu.
Tapi seseorang memanggilku, aku menoleh. Dalam sekejap, lenyap senyumku. Leo ada dihadapanku, tapi bukan dia yang memanggilku. Gaby memanggil seorang anak kecil. Bukan aku yang dipanggil, tapi anak itu. Anak itu lucu memang, padat berisi. Tapi itu juga menyakiti perasaanku. Astaga, apa yang harus aku lakukan disini? Kalau aku pergi dari sini, aku akan merusak momen indah bersama sahabatku. Dan jika aku terus disini, aku takut aku tak bisa menahan rasa sakit hatiku. Tidak! Aku harus berjuang. Karina susah payah membuatku menjadi ceria lagi. Dia pasti akan merasa buruk soal ini.
Aku bertekad, aku harus hadapi ini. Dan aku, tak mau merasa sakit hati lagi. Cukup aetahun aku menyiksa diri hanya karena Leo. Tidak akan ada lagi penyiksaan, sakit hati karena dia lagi.
"Ayo" kutarik Karina. "Kemana?"tanyanya.
"Hai..." kuusahakan senyum terbaik. "Hai "jawab Gaby sedikit agak ragu. "Boleh kugendong?"tanyaku. Gaby memberikan anak mungil itu padamu agak sedikit ragu. Sebisaku, aku menahan perih lukaku. Ya, Tuhan. Bantu aku melewati ini...
*******
"Apa yang ada dipikiranmu, Ta?"tanya Karina tenang tapi aku tahu dia tak mengerti tingkahku. "Aku tak mau terus terluka."jawabku sambil tersenyum, "Aku mau menyembuhkan hatiku. Terlalu berat bebanku setiap bertemu dengannya karena amarah, benci dan dendam. Semua itu hanya membuatku terluka lebih dalam. Terasa seperti aku menggendong mereka berdua dipundakku. Bayangkan saja, kalau kau menggendongku, pasti sangat berat. Ya, kan? Satu saja sudah berat apalagi dua??"candaku yang membuat Karina sedikit tertawa.
"Jadi...? Bagaimana perasaanmu pada anak itu? Anaknya Leo.."tanyanya lagi.
"Cantik. Seperti diriku..." tawa Karina lepas mendengar guyonan narsisku.
"Ya, paling tidak itu pertanda kau sudah kuat menerimanya. Itu baik."
"Benar, jangan lagi menyiksa diri. Semua manusia berhak bahagia. Mungkin Leo bukan bahagiaku. Mungkin ada orang lain diluar sana yang menjadi bahagiaku. Tapi itu takkan mudah bagiku. Kejadian itu akan jadi pelajaran berharga bagiku."
"Aku bangga padamu, Ta. Kau wanita kuat. Harus kuat. Aku disini bukan untuk menjagamu lagi. Tapi untuk mendukungmu."kata Karina menepuk-nepuk pundakku pelan.
*******
Memang, ketika kita berdoa, 'Kuatkan hamba untuk melewati masalah ini' maka masalahmu akan semakin banyak. Ya, untuk membuktikan sudah seberapa kuat kita menghadapi masalah itu. Seperti hari ini juga salah satu contoh nyata. Seminggu yang lalu aku bertemu Leo di pantai, lalu sekarang aku bertemu dengannya di suatu mall. Aku tersenyum sedikit sambil menganggukan kepala tanda aku menyapanya. Hatiku terasa perih. Namun, aku berkeras untuk teguh. Yang kulakukan memang pahit sekarang. Tapi aku mau terus menabur gula dihidupku.
Dia juga menganggukan kepalanya membalas sapaanku. Dia sedikit melirik kearah lain. Ku ikuti arah matanya. Lalu aku melihat Gaby dan anaknya, aku tersenyum lebar. Kutemui Gaby lalu bermain dengan anaknya. Sambil bermain, aku juga mengobrol dan bergurau dengan Gaby. Dia wanita baik, ramah dan sedikit segan padaku. Dia selalu menggunakan saya-kamu saat bicara. Itu cukup menandakan jarak kami.
"Santai saja saat ngobrol ini kan bukan wawancara kerja atau semacamnya. Kita kan sudah berteman" senyumnya merekah. Tiba-tiba aku merasa beban pundakku sedikit lebih ringan begitu melihat senyum lepasnya. Perjuanganku untuk menerimanya sebagai istri dari Leo membuahkan hasil. Satu tantangan lagi yang harus kuhadapi. Memaafkan Leo. Aku pasti bisa kan? Ya, aku pasti bisa.
Lalu Leo mendekati kami, mengajak Gaby dan anaknya melanjutkan perjalanan mereka di mall itu. Ya, bagaimanapun juga, aku pun punya kepentingan sendiri disini. Jelita kecil memberiku kiss-bye saat akan menjauh. Aku tersenyum lalu membalasnya diakhiri lambaian tangan. Kami berpisah.
Sambil melangkah menuju toko langgananku, aku menghitung berat bebanku saat ini. Semakin ringan. Hatiku lebih luas saat ini, mengingat senyum Gaby yang tulus. Aku mau menyelesaikan tantangan ini.
Bersambung... part 3
__________
Ini tentang Jelita, seorang gadis yang dijanjikan akan dinikahi kekasihnya jika sudah sukses di negeri orang. Tapi kenyataan berkata lain. Dia harus merasakan sakit luar biasa karena kekasihnya itu. Apakah dia mampu melewatinya? Apakah dia akan menemukan jalan keluar dari luka hatinya?
Berikan komentarmu dibawah ya... Terima kasih.😁😁😁😁